Tampilkan postingan dengan label Opini dan Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini dan Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 25, 2012

Solidaritas Masyarakat Nelayan

Hari ini (28 Maret 2012) sekitar pukul 16:30 bersama istri saya dengan kendaraan roda dua kami menuju bagian utara pantai kota Manado dengan maksud mengabadikan momen matahari tenggelam. Perjalanan yang ditempuh sekitar 10 menit dari pusat kota, melewati jembatan megawati dan jalan Hassanudin kami menuju lokasi tepi pantai yang kini sudah dibangun jalan bebas hambatan "Boulevard 2".

Setiba dilokasi saya langsung menyiapkan perlengkapan kamera untuk memulai memotret, perlahan saya berjalan sampai di ujung akhir jalan Boulevard 2 dibangun. Dan sayapun mengabadikan beberapa frame momen matahari yang mulai turun diufuk barat.
Klik untuk perbesar
Sambil menunggu tenggelamnya matahari saya mencoba ke tepi batas jalan hasil reklamasi pantai, tidak ada batas penghalang sehingga pandangan bisa lapang dan luas jauh, terlihat perkampungan nelayan diseberangnya. Beberapa anak-anak disekitar situ bahkan bermain-main dengan naik-turun pada bebatuan hasil reklamasi itu. Tiba-tiba pandangan saya terhenti pada kegiatan para nelayan yang ada diseberang. Sungguh menarik, beberapa orang nelayan terlihat sedang mendorong perahunya untuk dibawah ke tepi.
Klik untuk perbesar

Klik untuk perbesar

Karena penasaran, berhubung juga saat ini saya menggunakan lensa wide tergerak naluri untuk mendekat. Saya pun berlari menuruni bebatuan untuk mengabadikan momen ini. Dan terlihat juga beberapa nelayan ikut mendekati perahu untuk menambah tenaga mendorongnya.
Klik untuk perbesar

Melihat para nelayan begitu bersemangat mendorong perahu, saya semakin mendekat untuk mengambil gambar berusaha mencari angle yang pas. Dan betapa terkejutnya saya hingga membuat hati saya tersentuh bahkan sampai membuat mata saya berkaca-kaca hampir menangis, salah satu nelayan yang membantu mendorong perahu hanya memiliki satu tangan sebelah kiri.
Klik untuk perbesar

Klik untuk perbesar

Beberapa meter kemudian mereka sedikit beristirahat, saya sedikit bertanya kepada bapak yang tinggal memiliki sebelah tangan kiri. "Pak, kenapa perahunya didorang kedarat? apa mau diperbaiki?" Bapak itu menjawab. "Oh tidak, sebentar lagi akan datang badai, semua perahu diangkat ke darat". "Oh begitu" sahut saya...
Klik untuk perbesar

Beberapa nelayan berteriak memanggil teman-teman mereka yang ada didarat, semakin ke tepi air semakin dangkal membuat perahu semakin susah untuk didorong, perlu beberapa tenaga lagi agar perahu bisa diangkat sampat ke darat. Kembali saya bertanya kepada bapak tadi. "Maaf sebelumnya Pak, apa tidak kesulitan hanya dengan satu tangan mendorong perahu ini", bapak hanya tersenyum dan dengan santai menjawab "Masih mending dengan satu tangan, dari pada punya dua tangan tapi tidak membantu". Betapa ungkapan itu membuat saya terdiam sejenak, sesaat saya sadari perahu sudah sampai didarat. Mereka para nelayan itupun melanjutkan kegiatan mereka masing-masing
Klik untuk perbesar

Klik untuk perbesar

Klik untuk perbesar

Solidaritas masyakarat nelayan ini membuat saya kagum, diera kehidupan moderen saat ini hal seperti ini sangat jarang bahkan tidak dapat ditemukan lagi di masyakarat perkotaan. Kehidupan urban yang diwarnai dengan kesibukan menjadikan individualisme masyarkat begitu besar.

Dari sedikit obrolan dengan masyarakat nelayan dilokasi, sebagian besar dari mereka mengungkapkan dalam kondisi "trauma" dengan proyek reklamasi. Mereka sangat takut kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka. "Dulu mencari ikan hanya beberapa ratus meter dari pantai, sekarang bukan cuma kami yang trauma, ikan juga trauma hingga mencari ikan harus berkilo-kilo meter dari sini" ungkap seorang nelayan.


Sabtu, April 07, 2012

Classical vs Modern

5 April 2012, rencananya saya mau hunting sunset teluk Manado disekitaran kompleks Megamas sayangnya kondisi cuaca hari itu mengecewakan. Diufuk barat ada awan tebal menutupi lintasan matahari terbenam.

Foto diatas saya ambil dengan menggunakan kamera Canon 500D lensa Canon EF-S 10-22mm, dengan teknik bracketing manual pada 5 eksposure yang berbeda. Digabung dengan menggunakan software photomatix dan adobe photoshop. Alasan kenapa saya menggunakan teknik ini (modren teknik) karena kondisi saat itu jika dengan teknik klasik rasanya hasil akhir akan kurang memuaskan.
klik untuk perbesar
Gambar diatas adalah printscreen dari foto-foto yang ada di memory pada waktu pengambilan foto sunset 5 April 2012, file CR2 adalah singkatan dari Canon RAW versi 2, RAW adalah digital negative ibarat negative film pada kamera analog. Dengan kata lain file RAW belum mengalami proses apapun dari software.

Dari gambar screen shoot diatas bagian yang saya tandai dengan border berwarna merah adalah hasil foto "Golden Sea" yang saya anggap eksposurnya paling pas dibanding 5 foto lainnya. Ini hasil editinya
Komposing dengan Photoshop CS4
Level, Curve, Colour Balance  (shift blue), Brightness Contrast
Sebelum di Edit dengan Photoshop, RAW to JPG 
Sekilas tidak ada perbedaan yang jauh antara foto menggunakan teknik HDR dengan yang tidak setelah lewat hasil edit di photoshop. Tapi kalau perhatikan dengan seksama ada hal-hal detil yang terlihat pada foto HDR seperti awan, range cahaya dan warna juga lebih luas.
HDR Teknik
Classic Teknik

Rasa penasaran saya mendengar diskusi dari berbagai komunitas fotografi mengenai idelisme atau mungkin saya sendiri lebih berkesimpulan dengan isitilah "fanatisme", mengenai teknik konvensional (klasik) dan teknik digital (modern) yang selalu berpendapat bahwa yang klasik lebih mempunyai "skill fotografi" dan yang digital lebih mempunyai "nilai komersil". Tergerak untuk melakukan uji lapangan, kemudian saya lemparkan lewat diskusi online di facebook yang melibatkan praktisi fotografi (fotografer) dan para penikmat foto (bukan fotografer). Kekecewaan saya pada diskusi ini, para penikmat foto sudah takut memberikan pendapat mereka karena para praktisi fotografi sudah mengeluarkan bahasa "planet" dunia fotografi. Mengesampingkan tujuan yang sudah keluar jalur dari maksud tujuan diskusi itu sendiri, disisi lain saya senang karena diskusinya menarik perhatian di kalangan para komunitas fotografer.


Dari mata seorang fotografer, foto diatas secara teknis dari esensi fotografi masih banyak kekurangan baik itu masalah komposisi, exposure, colouring. Dari kacamata bukan fotografer yang tidak tahu persis tentang "ilmu" fotografi pasti akan pilih "D". Dan prediksi saya didiskusi itu akan banyak memilih "D" dengan alasan yg hampir sama "Enak dilihat". Didiskusi it

Teknologi sekarang membuat ilmu fotografi jauh lebih mudah dipelajari, tidak seperti dulu zaman analog, minimal harus punya lightmeter.. susahnya kalo saya yg genrenya landscape lightmeter hampir tidak bisa digunakan.. triknya ... capture normal exposure, under -1  dan over +1 (sesuai metering yg saya rasa pas) nanti di darkroom baru pilih yg pas wakakaka jadinya "BOROS film"

Selanjutnya kehadiran teknik komposing HDR yg belakangan jadi trend mulai menggoda saya untuk mencobanya, dulu sempat mempertahankan menggunakan teknik GND.. tapi godaan tingkat akurat dari komposing digital membuat saya mulai menggunakan teknik ini sampai sakarang. Walaupun ada yg komplain dan berpendapat "ahh masih lebih asyik yang natural" maksudnya mungkin bukan HDR, saya juga suka yang natural. Foto diatas sengaja disajikan dgn teknik seadanya dan tergesa-gesa. Alasannya supaya tidak mempengaruhi penilaian kategori "indah" yg ingin dicapai dari penyajian 4 foto ini. Padahal yang seharusnya ini bukan gaya seorang fotografer landscape... karena fotografer landscape harus lebih sabar... sabar menunggu cahaya yang pas, sabar menunggu posisi focal point yang tepat untuk memperkuat komposisi.

Foto A & C bukan foto HDR, proses digital hanya sebatas contrast/britgness, sedangkan foto B & C adalah foto HDR penggabungan 3 eksposure menggunakan software photomatix. Keempat foto tersebut tidak dilakukan manipulasi warna, lewat photoshop semua di koreksi hanya sebatas contrast & brigntess, agar adil saya merecord proses editing ke photoshop action agar bisa digunakan juga pada foto yang lain dengan step dan rasio editng yang sama pada keempat foto. Dan semua foto saya ambil menggunakan kamera Canon 500D lensa EF-S 10-22mm USM, agar adil juga saya menggunakan tripod + shutter release dan menggunakan mode Aperture Priority ( f/11) metering mode pattern, kopensasi eksposur 0 (nol) metering point ke awan dan langit.

FOTO A
klik foto untuk perbesar
Foto ini diambil menggunakan filter ND4 + Grad -Grey -2stop, efek grey filter menjadikan warna awan menjadi warna pink (merah muda) jadi kalo ada yang beranggapan itu hasil olahan dari digital, tebakannya belum tepat :D. Salah satu yang membuat saya senang menggunakan filter ini, adalah efek warna yang dihasilkan sangat sulit ditiru lewat software editor. Dan filter ini saya gunakan untuk mengejar perbedaan intensitas cahaya antara objek bawah dan atas yang sangat signifikan. Karena filter yang saya gunakan hanya -2stop artinya bagian gelapnya hanya bisa under 2 stop agak kesulitan menggunakan filter ini jika ingin mengambil foto seperti contoh paling atas "Golden Sea" yang langsung menghadap ke matahari, saya rasa -2 stop tidak lah cukup untuk mencapai keseimbangan yang diinginkan.
Filter: Grad-Grey & ND4

FOTO B
klik foto untuk perbesar

Sama seperti FOTO A menggunakan   filter ND4 + Grad -Grey , hanya saja digabungkan dengan teknik HDR dengan bracketing 3 exposure -2 0 +2

FOTO C

klik foto untuk perbesar
Foto ini diambil tanpa menggunakan  filter  filter ND4 + Grad -Grey

FOTO D

Foto dengan teknik HDR penggabungan dari beberapa eksposur tanpa menggunakan filter.

Yang penasaran dengan warna pink di awan, boleh download file RAWnya disini

Teknik HDR ini sendiri cendurng oversaturate dan juga proses lumansi dari software sering membuat beberapa area (terutama bagian gelap) sering muncul nois. Untuk foto HDR diatas saya lakukan beberapa koreksi di photoshop untuk menjadikanya terkesan natural. Saya sendiri sering menyebutnya "Digital Magic", keajaiban ini yang membuat beberapa orang awam selalu bertanya-tanya ini asli atau edit?

Percobaan yang mungkin hanya keisengan karena penasaran yang saya lakukan ini membuka mata saya, dari contoh 4 foto diatas dengan mengabaikan semua teknik dan esensi fotografi, ternyata dunia digital saat ini telah mengubah dunia fotografi secara dratis. Dan naif bagi saya jika seorang fotografer yang menggunakan dSLR secara mentah-mentah mengatakan saya tidak perlu software editor, atau ada beberapa yang beranggapan tidak edit lebih asyik.

Ya.. tidak edit atau teknik klasik vs teknik modern bagi saya keduanya sama kuat kalo mau menghasilkan foto yang indah, seandainya mungkin jika saya tidak menggunakan grad-grey mungkin pilihan akan berkata lain pada diskusi yang saya lemparkan.

Foto ini saya komposit dari FOTO A & C, dengan asumsi menggunakan GND bukan Grad-Grey, mungkin pilihannya akan beda ^_^.

Kesimpulan yang bisa saya dapat dari apa yang saya lempar ke halaman facebook dengan contoh keempat foto diatas, lepas dari segala esensi fotografi kebanyakan memilih foto yang enak dipandang mata, yang kesannya natural, dan itu adalah efek psikologis alami. Karena mata sudah terbiasa dengan hal yang natural.
Dan pada prinsipnya ketika sebuah foto disajikan, tidak peduli prosesnya seperti apa, penikmat hanya melihat hasil akhir, penikmat yang saya maksud ini adalah bukan praktisi fotografi, penikmat adalah mereka yang menjadi pelanggan anda (buat komersil fotografer). Beda apabila dilihat dari sisi praktisi fotografi, atau foto akan dilombakan, atau foto jurnalistik atau foto yang memiliki story khusus. Yang dilihat adalah prosesnya, mulai dari gear, waktu eksekusi sampai proses dark/light room.

Dan teknik digital saat ini, tidak dapat disangkal mulai mengikis teknik klasikal yang sebetulanya adalah esensi dasar dari ilmu fotografi itu sendiri. Kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan teknik digital menjadi godaan yang sulit dihindari para praktisi fotografi. Kalau masih ada yang kurang puas.. dengan opini saya bahwa Teknik Digital sekarang dalam dunia fotografi adalah merupakan keharusan...
sebaiknya jangan sampai anda ketinggalan... selain HDR sekarang juga ada teknik yang sekarang jadi trendy yaitu GREEN SCREEN PHOTOGRAPHY, dimana teknik green screen sebelumnya sudah digunakan pada proses pembuatan film

Rabu, Maret 07, 2012

Canon announces EOS 5D Mark III 22MP full-frame DSLR

Canon hari ini mengumumkan peluncuran EOS 5D Mark III. EOS 5D Mark III dibangun dari kinerja 5D Mark II EOS yang legendaris, menawarkan peningkatan kecepatan, resolusi lebih besar, kekuatan pemrosesan ditingkatkan dan opsi kreatif yang luas untuk still foto dan Full HD film - memberikan kebebasan artistik yang tak tertandingi untuk para fotografer yang paling banyak menuntut.

Rabu, Februari 29, 2012

Sunset Journey: Selamat Laut Manado

kan
Seandainya sampah-sampah ini dibuang pada tempatnya, tempat ini pasti sangat indah.

Apakah ini wajah pantai Indonesia??padahal kita bisa manfaatkan pantai untuk pariwisata dan untuk pemasukan buat indonesia??

Selasa, Februari 07, 2012

Nikon D800

FX Nikon D800 diklaim sebagai kamera terjam setelah pendahulunya D700, kini Nikon menawarkan serangkain fitur canggih pada DSLR 36.6MP.

Dirilis tahun 2007 D700 adalah kamera full-frame pertama dengan body ramping dan harga dibawah dibanding kamera full-frame lainnya. D700 dikembangkan berdasarkan teknologi seri D3 dan dilengkapi fitur serbaguna 12.1MP menggunakan FX sensor dan 51-titik autofocus.

Kamis, Desember 08, 2011

Samsung NX200

NX200 adalah kamera kelima dari Seri NX yang di keluarkan oleh Samsung, walaupun desain body adalah model yang ketiga.

Pada seri ini banyak mengalami perubahan yang signifikan, seperti sensor yang sudah menggunakan APS-C CMOS 20.3 MegaPixel dan hasilnya hampir mirip dengan Sony NEX dengan tampilan yang elegan tapi memiliki pendekatan yang sedikit berbeda.

Tampilan dan interface serta posisi tombol fungsi didesain sesederhana mungkin dengan jangkaun yang nyaman, diyakini memudahkan untuk pengguna pemula. Samsung menambah layar kontrol yang disebutnya "Smart Panel" yang menawarkan akses yang jelas dana cepat untuk semua pangaturan pemotretan.
Compare with SONY NEX 5N
Dibanding seri NX lainnya, NX200 mengalami perbaikan rentang warna yang lebih sensitif, juga peningkatan cahaya pada tepi sensor saat menggunakan lensa wide-angle juga mengalami perbaikan pada filter anti-aliasing.

Disisi video, kemampuan NX200 sudah dalam format 1080p30 dengan kontrol exposure yang lebih baik pada mode Movie.
Comaper with SONY NEX 5N

Spesifikasi singkat:
Sensor: 20.3MP APS-C CMOS
Body construction: Magnesium Alloy/Plastic
Maximum shooting rate: 7fps (up to 11 JPEG)
ISO Range: 100-12,800
Accessory connector: No
Image processing: 10 Smart Filters + 13 Magic Frames
Video: 1080p30
Video exposure modes: P,A,S,M
Battery life (CIPA standard): 320 shots

Sample Photo Samsung NX 200
NX200 | 85mm | 1/250s | F1.4 | ISO 200
Photo by Samsung NX
NX200 | 85mm | 1/1600s | F1.4 | ISO 100
Photo by Samsung NX

Minggu, Oktober 30, 2011

Peduli Lingkungan lewat foto: Hunting II PF-PPWI Budaya, Wisata dan Religi [KALI, PINELENG]


Sabtu 29 oktober 2011 kembali PF-PPWI melaksanakan kegiatan hunting foto yang masih dalam rangkaian kegiatan "Peduli Lingkungan Lewat Foto" bekerja sama dengan WCS (World Conversation Society). Hunting pertama, PF-PPWI mefokuskan pada sampah di sekitar Kuala Jengki (Muara Sungai Tondano). Kali ini hunting ke-2 difokuskan pada tema budaya, keagamaan dan lokasi wisata. Lokasi yang menjadi tempat hunting adalah Taman Makam Pahlawan Imam Bonjol & Air Terjun Kali.



Pukul 06.00 peserta mulai berkumpul, satu jam kemudian setelah briefing dan perkenalan singkat dari para peserta tepat pukul 07.10 semuanya berangkat ke lokasi pertama yaitu taman makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol dengan jarak kurang lebih 5 km dari lokasi meeting point.
Photo: Wensi Pantouw
Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1838.[1] Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, Dia merupakan putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol
Dalam bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.


Pukul 08.30 lanjut ke lokasi meeting point 2 di desa kali sebelum menuju lokasi hunting air terjun kali, sekalian rehat beberapa menit karena lokasi hunting air terjun akan ditempuh dengan berjalan kaki jaraknya kurang lebih 1 km dari meeting point 2. Meiki Tangkuman anggota PF-PPWI menyiapkan rumahnya sebagai tempat untuk meeting point 2. Rehat selama 30 menit kemudian lanjut ke lokasi air terjun kali dengan berjalan kaki.

Serunya sepanjang peralanan menuju air terjun, banyak objek yang bisa difoto. Terutama mereka penggemar fotografi macro dan landscape tempat ini seperti surga bagi mereka.


Memasuki jalan setapak menuju Air Terjun anda akan disajikan pemandangan landscape yang indah di sisi sebelah kanan.

Pertengahan rute jalan setapak, jikalau mulai terasa letih ada bangunan yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Sayangnya bangunan sudah tidak terawat, walau masih kokoh berdiri karena dibuat permanen, tapi kondisi  sangat kotor.


Beberapa meter kedepan menuju air terjun, ada mata air. Konon dapat langsung diminum. Jadi jika persediaan air minum sudah sedikit atau habis, wadah air minum yang dibawah bisa diisi dengan air dari mata air ini.

Akhirnya sampai juga dilokasi air terjun, tanpa banyak bicara lagi semua peserta langsung menyiapkan peralatan mereka. Saya langsung melepas sepatu, dan langsung masuk ke sungai untuk mengambil gambar air terjun.

Air terjun Kali memiliki ke unikan yaitu memiliki 2 buah air terjun dengan ketinggian 60 meter. Sangat disayangkan objek wisata ini sudah tidak terawat, bahkan terlihat sudah dilupakan dan dibiarkan. Potensi Air terjun sangatlah besar untuk menarik wisatawan baik itu internasional, nasional dan lokal. Air Terjun Kali atau Air Terjun Pineleng padahal namanya sudah tersohor di tanah air. Seperti Afni Rustam lewat Weblog nya menceritakan bahwa pada tanggal 30 Mei 2010 bersama dengan suaminya tercinta datang ke Air Terjun Kali, jauh-jauh dari pulau jawa ke Manado untuk ke air terjun kali dia begitu kecewa dengan kondisi objek wisata ini. Sempat saya baca mereka ke tempat ini tanpa buku petunjuk pariwista, sehingga menjadi pertanyaan bagi saya apakah memang benar air terjun kali sudah dihapus dari daftar objek wisata daerah? karena ada beberapa isu tempat ini sudah tidak lagi didaftarkan sebagai objek wisata.


Kalau memang isu itu benar bahwa air terjun kali sudah tidak didaftarkan lagi sebagai objek wista, saya menjadi semakin bingung lagi ketika membuka situs resmi Pemerintah Minahasa, Air Terjun Kali Pineleng masih terpampang di slide halaman utama yang nota bene Pemkab minahasa masih mempromosikan keberdaan objek wisata ini. TETAPI!!!!! kenapa tempat ini dilantarkan dan dibiarkan? tekesan bagi saya Pineleng seperti anak tiri padahal arti dari PINELENG itu sendiri = DIPILIH, lokasi Kec. Pineleng sebagai bagian dari Kabupaten Minahasa diapit oleh dua daerah tingkat II yaitu Kota Manado dan Kota Tomohon, jangkauan pun jauh lebih dekat ke Manado dan Tomohon dari pada ke Tondano yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Minahasa. Seandainya memang pemerintah tidak sanggup atau belum bisa mengelola dengan baik, cobalah tempat ini dibuka kesempatan dengan mencari investor swasta yang mau bekerja sama untuk mengelola.
Official Website Pemerintah Kabupaten Minahasa
Photo:  John Tasirin
Sangat menyedihkan saat melihat kondisi lokasi disekitar Air Terjun Kali, begitu banyak sampah, fasilitas yang tidak terawat. Padahal kalau dikelalo dengan baik tempat ini bisa menjadi primadona daerah, terutama untuk mereka pecinta fotografi tempat ini bisa menjadi salah satu spot yang wajib dikunjungi.

Di sesi terakhir acara hunting yang dilaksanakan PF-PPWI bekerja sama dengan WCS, para peserta disuguhi dengan sesi foto model dengan konsep Busana Daerah Minahasa. Beberapa peserta antusias memotret dua orang model yang sudah disiapkan, tapi banyak juga peserta lain yang tetap sibuk berburu objek macro.


Hunting dilokasi air terjun diakhiri dengan berfoto bersama semua peserta. Dan selanjutnya kembali ke meeting point 2 rumahkanya Meiki Tangkuman untuk santap bersama Tinutuan atau Bubur Manado dilanjutkan dengan diskusi "Bedah Foto" sambil minum kopi yang sudah disiapkan.
Photo by Andres Etd

Pukul 13.00 seluruh acara berakhir, dan semuanya kembali ke aktifitas masing-masing.





Link Terkait:

PHP Google Drive

https://g.co/gemini/share/4ec33b801d4a   Tentu, saya akan membantu Anda membuat kode PHP menggunakan Composer untuk melakukan sinkronisasi (...